Tauhid
A. Definisi Tauhid
Tauhid (Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.
Kata “tauhid” di dalam bahasa Arab berasal dari kata (wahhada – yuwahhidu – tauhidan), dan makna (wahhadasy syai’a) yaitu menjadikan (sesuatu) satu-satunya, dan semuanya berasal dari kata (wahidun) yang berarti satu atau tunggal.
Adapun menurut arti dalam syari’at maka makna tauhid bila dimutlakkan maksudnya adalah menyendirikan/mengesakan Allah dalam beribadah kepadanya. Adapun pengertian secara lebih luas lagi adalah menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam hal rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya, dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam semua hal tersebut.
Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari
kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.
Kedudukan Tauhid dalam Islam
Seorang muslim meyakini bahwa tauhid
adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan
merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai
dengan tuntunan rasulullah.
Dalil Al Qur'an Tentang Keutamaan & Keagungan Tauhid
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu"
(QS An Nahl: 36)
"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan" (QS At Taubah: 31)
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah,
hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)" (QS
Az Zumar: 2-3)
B. Macam-macam Tauhid
Dari definisi diatas kita dapatkan bahwa mentauhidkan
Allah itu meliputi tiga hal yang merupakan kekhususan / keistimewaan bagi Allah,
yaitu:
– Tauhid Rububiyyah
– Tauhid Uluhiyyah
– Tauhid Asma’ Wa Shifat
Ketiga macam tauhid ini terkumpul dalam firman Allah yang
artinya
“Robb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang
ada diantara keduanya, maka sembahlah dia dan teguh hatilah dalam beribadat
kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Allah yang
patut disembah)?”
[QS. Maryam: 65].
Adapun perincian ketiga macam tauhid tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Tauhid Rububiyyah
Yaitu menyendirikan / mengesakan Allah dalam hal
perbuatan-perbuatan-Nya, seperti menciptakan, menguasai, mengatur, dan yang
lainnya dari perbuatan-perbuatan Allah yang tidak ada sekutu dan tandingan bagi
Allah dalam hal tersebut. Maka makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal
penciptaan yaitu seseorang meyakini bahwasanya tidak ada pencipta selain Allah.
Allah berfirman yang artinya :
“Ingatlah (ketahuilah) menciptakan dan memerintah
hanyalah hak Allah.”
[QS. Al-A’raaf: 54].
Dan dalam ayat lain Allah berfirman:
“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki
kepada kalian dari langit dan bumi?”
[QS. Faathir: 3].
Sedangkan penetapan adanya pencipta selain Allah seperti
dalam firman-Nya:
“Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik
(diantara para pencipta).”
[QS. Al-Mu’minuun: 14].
Maka itu bukanlah penciptaan yang hakiki, yakni bukan mengadakan sesuatu setelah tidak ada, tetapi penciptaan dalam bentuk merubah sesuatu dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dan itupun tidak sempurna mencakup segala sesuatu, tetapi terbatas pada apa yang dimampui oleh manusia, terbatas pada ruang lingkup yang sempit.
Adapun makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal
penguasaan (pemilikan)-Nya, yaitu kita meyakini bahwa tidak ada yang menguasai
(memiliki) seluruh makhluk kecuali penciptanya (yakni Allah).
Sebagaimana dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:
“Dan hanya milik Allah-lah kerajaan (kekuasaan) langit dan
bumi.”
[QS. Ali ‘Imran: 189].
Dan juga firman-Nya :
Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya ada kekuasaan
atas segala sesuatu?”
[QS. Al-Mu’minuun: 88]
Sedangkan penetapan adanya kekuasaan/kepemilikan bagi
selain Allah seperti dalam firman-Nya :
“kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang
mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”
[QS. Al-Mu’minuun: 6].
Dan seperti dalam firman-Nya :
“atau di rumah kalian yang kalian miliki kuncinya”
[QS. An-Nuur: 61].
Maka itu semua adalah kekuasaan/kepemilikan yang
terbatas, tidak meliputi kecuali sedikit dari makhluk-makhluk. Jadi seseorang
hanya memiliki apa yang ada di tangannya dan tidak memiliki apa yang ada di
tangan orang lain. Dan juga dari sisi sifatnya, kekuasaan/ kepemilikan tersebut
bersifat terbatas, karena seseorang tidaklah memiliki apa yang ada padanya
secara sempurna, sehingga dia tidaklah bebas mengaturnya kecuali atas dasar apa
yang diijinkan oleh syari’at. Sebagai contoh misalnya: kalau seseorang hendak
membakar hartanya, atau menyiksa hewan piaraannya, maka kita katakan kepadanya:
tidak boleh. Sedangkan Allah, maka kekuasaan/kepemilikan-Nya meliputi segala
sesuatu (yang Dia ciptakan) secara sempurna.
Adapun makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal
pengaturan-Nya, yaitu seseorang meyakini bahwa tidak ada yang mengatur kecuali
Allah saja, sebagaimana dalam firman-Nya :
Katakanlah: “siapakah yang memberi rezki kepada kalian
dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan,
dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang
mati dari yang hidup, dansiapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka
akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa
(kepada-Nya)? Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Robb kalian sebenarnya;
maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah
kalian dipalingkan (dari kebenaran)?”
[QS. Yunus: 31-32].
Sedangkan pengaturan manusia, maka hanya terbatas pada
apa yang ada di tangannya, dan juga terbatas pada apa yang diijinkan oleh
syari’at dari apa yang ada di tangannya.
Dan tauhid rububiyyah ini tidak disangkal dan ditentang
oleh orang-orang musyrikin – terdahulu yang mana Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi
wa sallam diutus di tengah-tengah mereka, bahkan mereka mengakuinya, Allah berfirman:
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “siapakah
yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya
diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.
[QS. Az-Zukhruf:9].
Maka mereka mengakui bahwa Allah adalah yang mengatur
segala urusan, dan bahwa Dia-lah yang ditangan-Nya ada kekuasaan langit dan
bumi. Akan tetapi pengakuan
mereka akan rububiyyah Allah tidak memasukkan mereka ke dalam Islam, kecuali
bila mengakui dua macam tauhid yang lainnya. Karena ketiga
macam tauhid tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan,
siapa saja yang tidak mengakui salah satu diantaranya maka belumlah benar
keislamannya.
2. Tauhid Uluhiyyah
Yaitu menyendirikan/mengesakan Allah dalam ibadah, dan
disebut juga “tauhid ubudiyyah”. Maka yang berhak untuk diibadahi adalah Allah,
sebagaimana dalam firman-Nya:
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak
(untuk disembah dengan benar), dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru
selain Allah itulah yang batil.”
[QS. Luqman: 30].
Adapun ibadah itu sendiri mengandung dua pengertian:
Pertama: Beribadah
yang berarti menundukkan/menghinakan diri kepada Allah dengan melaksanakan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa cinta
dan pengagungan kepada-Nya.
Kedua:
Jenis ibadah, yang maknanya adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikul Islam
Ibnu Taimiyyah, yaitu: “Semua apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah,
daripada perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin”.
Dan menyendirikan/mengesakan Allah dalam tauhid uluhiyyah
ini mengharuskan seseorang menjadi hamba yang beribadah kepada Allah semata,
yang tunduk hanya kepada-Nya, dengan rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya,
serta beribadah menurut syari’at yang telah Allah gariskan. Allah berfirman:
“Janganlah kamu adakan sesembahan yang lain disamping
Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan terhina.”
[QS. Al-Israa': 22].
Dan Allah berfirman:
“Wahai manusia, sembahlah Allah yang telah menciptakan
kalian dan orang-orang sebelum kalian”.
[QS.Al-Baqarah: 21].
Maka yang bersendiri dalam hal penciptaan, dialah yang
berhak untuk diibadahi dan disembah, yaitu Allah. Dan tauhid uluhiyyah inilah yang diingkari dan ditentang
oleh hampir kebanyakan manusia, diantaranya orang-orang musyrikin dahulu -,
oleh karena itu Allah mengutus para rasul-Nya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya
kepada mereka. Allah berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak)
melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.”
[QS.Al-Anbiya': 25].
3. Tauhid Asma’ Wa Sifat
Yaitu menyendirikan/mengesakan Allah dalam apa yang Allah
miliki dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan dalam hal ini terkandung dua
perkara:
Pertama:
Al-Itsbat (penetapan), yakni kita menetapkan semua nama dan sifat bagi Allah,
dari apa yang telah Allah tetapkan sendiri dalam kitab-Nya atau apa yang
ditetapkan Rasul-Nya dalam sunnahnya.
Kedua:
Nafyul Mumatsalah (meniadakan penyerupaan/penyamaan), yakni bahwa kita tidak
menyamakan/menyerupakan Allah dengan selain-Nya dalam nama-nama dan
sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang Allah firmankan:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan
Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Asy-Syuura: 11].
Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa semua
sifat-sifat-Nya tidak ada satupun dari para makhluk-Nya yang
menyerupainya/menyamainya. Dan tauhid asma’ wa sifat inilah yang sebagian umat
Islam tersesat di dalamnya dan tercerai berai menjadi banyak golongan.
Maka diantara mereka ada yang mengikuti jalur ta’thil
(menolak/meniadakan), yakni meniadakan sifat-sifat Allah, baik sebagian maupun
keseluruhan, yang mereka mengira bahwa mereka mensucikan Allah (dari
kekurangan) dengan hal tersebut.
Dan diantara mereka ada yang mengikuti jalur tamtsil
(menyamakan/menyerupakan), yakni menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah
dengan sifat-sifat makhluk-Nya, dan mereka mengira bahwa diri merka mengetahui
hakekat apa yang Allah tetapkan dari sifat-sifat-Nya.
Dan ada pula yang mengikuti jalur tahrif
(menyimpangkan/mengalihkan), yakni
menyimpangkan/mengalihkan makna sifat-sifat Allah dari makna asalnya “Istiwa’
itu diketahui maknanya (dalam bahasa arab), adapun ketentuan hakekatnya tidak
dikethui, sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentang – ketentuan
hakekat – nya adalah bid’ah.”
Adapun ahlus sunnah wal jama’ah, maka mereka mengimani
dan menetapkan semua apa yang telah Allah tetapkan sendiri di dalam kitab-Nya
daripada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan yang telah ditetapkan oleh
Rasul-Nya dalam sunnahnya, dengan tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.
Dan tidak ada tempat bagi akal untuk menetapkan suatu nama atau sifat
sebagaimana yang dilakukan oleh banyak dari golongan-golongan sesat, yang karena
penggunaan akal dalam hal ini itulah yang menyebabkan mereka tersesat.
C. Disyari’atkannya Tauhid
Tauhid yang bila dimutlakan berarti
penyendirian/pengesaan Allah dalam beribadah kepada-Nya, adalah agama yang
dibawa oleh para nabi dan rasul, khususnya semenjak nabi Nuh yang awal
kesyirikan muncul pada masanya sampai kepada nabi kita Muhammad, dimana tidak
ada seorang rasul pun yang Allah utus kepada manusia kecuali mengajak umatnya
untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah kepada-Nya dan meninggalkan
peribadahan kepada selain-Nya.
Allah berfirman:
“dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut
(segala apa yang disembah selain Allah)” [QS.An-Nahl: 36].
Dan juga sebagaimana dalam ayat terdahulu, Allah
berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak)
melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.” [QS.Al-Anbiya': 25].
Maka tauhidullah merupakan syari’at Allah ysng paling
agung yang diwajibkan atas semua umat dan setiap manusia sampai hari kiamat.
Dan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shållallåhu ‘alaihi wa sallam
memerangi orang-orang musyrikin karenanya agar mereka mau bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, sebagaimana
tersebut dalam salah satu hadits:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali
Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhary dan Muslim).
Dan mentauhidkan Allah dalam beribadah kepadanya
merupakan hikmah asal penciptaan jin dan manusia, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepada-Ku (saja).” [QS. Adz-Dzaariyaat: 56].
Dan Allah juga berfirman:
“Hai manusia, sembahlah Robb kalian (saja) yang telah
menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian”, sampai firman-Nya: ”maka
janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah (dalam beribadah
kepada-Nya), padahal kalian mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 21-22].
Maka dengan demikian wajib atas setiap muslim untuk
mempelajari tentang tauhid yang merupakan awal yang harus dia tuntut untuk
kemudian dia realisasikan dalam pengamalan dan peribadahannya, Allah berfirman:
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan
(yang berhak disembah dengan benar) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi
dosamu” [Muhammad: 19]
Dan mempelajari pula tentang kesyirikan dan
macam-macamnya untuk dia jauhi dan agar tidak terjatuh ke dalamnya. Maka tauhid
adalah yang teragung diantara perintah-perintah Allah yang diwajibkan atas
manusia.
D. Kewajiban Menyeru Kepada Tauhid
Tatkala seseorang telah mengetahui dan mengamalkan
tauhid, maka wajib baginya untuk menyampaikan dan mengajarkannya kepada yang
lain daripada manusia yang belum mengerti tentang tauhid tersebut, sehingga dia
menempatkan dirinya dalam barisan para nabi dan rasul yang telah sama-sama
mengemban risalah tauhid yang agung ini, dan khususnya adalah menjadi pengikut
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shålallåhu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana dalam firman Allah :
Katakanlah: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku menyeru (kalian) (untuk beribadah) kepada Allah diats hujjah yang
nyata.” [QS.Yusuf: 108]
Dan manakala tauhid merupakan awal yang harus dipelajari oleh setiap manusia, maka berarti ia adalah awal yang harus didakwahkan kepada manusia sebagimana apa yang didakwahkan oleh para rasul, yaitu menyeru agar manusia beribadah kepada Allah saja:
“Sembahlah (ibadahilah) Allah, sekali-kali tidak ada
sembahan bagimu selain Dia.” [QS. Huud: 50]
Dan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam tatkala
mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman, beliau berkata kepada Muadz:
“Sesungghunya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahlul
kitab, maka hendaklah yang pertama kamu seru mereka (agar mereka) bersaksi
bahwa tidak ada sembahan (yang hak ) kecuali Allah)) [HR. Bukhary dan Muslim], dan dalam salah satu riwayat Bukhary (dengan lafazh): “agar mereka mentauhidkan Allah (dalam beribadah
kepada-Nya)”.
Demikianlah jalan yang ditempuh oleh para rasul dalam
dakwah mereka, yaitu bahwa mereka mendahulukan dan memulai dakwahnya dengan
tauhid. Dan adalah Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam selama kurang lebih
tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, menyeru orang-orang Quraisy untuk
mentahidkan Allah dalam beribadah kepadanya dan melarang mereka dari
penyembahan kepada berhala-berhala, patung-patung, dan semua apa yang selain
Allah, beliau diperintahkan Allah untuk mengatakan:
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Robb-ku dan
aku tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” [QS. Al-Jin: 20]
Bahkan sampai hal itu terus dilanjutkan sampai setelah
beliau ?
berhijrah ke Madinah, beliau terus mengajarkan dan
mengingatkan umatnya akan tauhid sampai akhir hayat beliau.
Beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian melebih-lebihkan (dalam mengagungkan)
aku sebagaimana yang dilakukan kaum nasrani tarhadap ‘Isa putera Maryam,
hanyasanya aku seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhary dan Muslim].
Dan bahkan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan tauhid ini kepada para pengikutnya semenjak mereka kecil,
diantaranya beliau pernah berkata kepada Ibnu Abbas – yang waktu itu masih
belia -:
“Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika
kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzy, beliau berkata: Hasan shahih).
Maka wajib atas setiap da’i yang menyeru manusia untuk
memulai dakwahnya dengan mengajarkan manusia tentang tauhid dan mengutamakannya
diatas yang lainnya, apalagi di zaman sekarang yang mana kesyirikan dengan
berbagai bentuknya telah merajalela dan menyebar di tengah-tengah kaum
muslimin, yang sepertinya semua itu dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan
dianggap remeh oleh mereka. Padahal kesyirikan tersebut akan menjerumuskan
mereka dalam api neraka dan kekal di dalamnya karenanya,
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim.” [QS. Al-Maidah: 72].
Dan kesyirikan adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh
Allah [1], sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kesyirikan
(mempersekutukan
sesuatu) dengan-Nya, dan akan mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. An-Nisaa': 116].
E. Keutamaan Dan Buah Dari Tauhid
Adapun keutamaan dan buah dari tauhid, maka diantaranya
adalah:
1. Mendatangkan keamanan di akhirat dan
petunjuk di dunia.
Allah berfirman:
“Orang-orang yang beriman an tidak mencampur adukkan iman
mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanandan petunjuk.” [QS. Al-An’aam: 82].
Dalam ayat ini Allah memberi kabar gembira kepada
orang-orang beriman yang bertauhid bahwa mereka akan mendapat keamanan dari
siksa Allah di akhirat dan mereka akan mendapat petunjuk di dunia. Semakin
sempurna iman dan tauhid seseorang, maka akan semakin sempurna pula keamanan
dan petunjuk yang akan dia peroleh.
2. Tauhid adalah yang paling utama diantara cabang-cabang keimanan.
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shållallåhu
‘alahi wa sallam bersabda:
“Iman itu ada enam puluh sekian cabang: yang paling utama
adalah perkataan ‘Laa Ilaaha Illallah’, dan yang palingrendahnya adalah
menyingkirkan sesuatu yang menyakitkan dari jalan.” (HR. Muslim).
3. Tauhid memasukkan pelakunya ke dalam surga.
Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang
hak) kecuali Allah semata tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah
hamba dan rasul-Nya, dan bahwa ‘Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimatnya
yang Allah lemparkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya (diantara ruh-ruh yang
Allah ciptakan), dan surga itu benar adanya, dan neraka itu benar adanya,
niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga, apapun yang dia amalkan.” [HR. Bukhary dan Muslim].
Maka Allah telah menjamin seorang yang bertauhid dengan
surga-Nya, sebagaimana juga dalam hadits yang lain Nabi shållallåhu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bertemu Allah (dalam keadaan) tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga, dan
barangsiapa yang bertemu Allah (dalam keadaan) mentekutukan-Nya dengan sesuatu
mka dia akan masuk neraka.” [HR.Muslim].
4. Tauhid dapat menghapuskan dosa-dosa dan mendatangkan ampunan dari Allah.
Yaitu sebagaimana datang dalam hadits Qudsi, bahwa Allah
berkata:
“Wahai anak adam, jikalau kamu datang kepadaku dengan
membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu menjumpaiku (dalam keadaan) tidak
menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan
membawa seisi bumi ampunan.” [HR. At-Tirmidzy].
Demikianlah pembahasan ringkas tentang tauhid. Semoga
Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk menjadi hamba-hamba-Nya
yang bertauhid sehingga memperoleh yang telah Allah janjikan kepada orang-orang
yang beriman dan bertauhid daripada petunjuk, dan surga-Nya, ampunan-Nya, serta
keselamatan dari siksa api neraka.
Amiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.
Dicopy dari tulisan artikel yang disusun oleh al-faqir ilallah : Arif Syarifuddin
(Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan
menyayangi dirinya dan keluarganya .. amin)
Maraji’
1. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, karya Syeikh
Muhammad bin ‘Utsaimin.
2. Minhaj al-firqotun Najiyah, karya Syaikh Jamil zainu.
2. Minhaj al-firqotun Najiyah, karya Syaikh Jamil zainu.
Footenote:
[1] Yang dimaksudkan dosa syirik yang tidak diampunkan
disini yaitu dosa syirik dibawa sampai mati, tanpa bertaubat darinya. Adapun
orang yang berbuat kesyirikan dan bertaubat sebelum kiamat besar tiba atau/dan
sebelum nyawanya berada di tenggorokan, maka sesungguhnya Allåh Maha Penerima
taubat lagi Maha Pengampun atas setiap dosa hamba-Nya. Wallåhu a’lam
Rukun Iman
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Rukun
Iman (pilar keyakinan) ini adalah menurut aliran Islam Sunni terdiri dari:
Patuh dan taat kepada ajaran dan hukum-hukum
Allah.
Mengetahui dan percaya akan keberadaan
kekuasaan dan kebesaran Allah di alam semesta.
Melaksanakan ajaran kitab-kitab Allah hanif.
Salah satu kitab Allah adalah Al-Qur'an.
Al-Qur'an memuat tiga kitab Allah sebelumnya,
yaitu kitab-kitab Zabur, Taurat, dan Injil.
•
Iman kepada rasul-rasul Allah.
Mencontoh perjuangan para Nabi dan Rasul dalam
menyebarkan dan menjalankan kebenaran
yang disertai kesabaran.
•
Iman kepada hari kiamat.
Faham bahwa setiap perbuatan akan ada
pembalasan.
•
Iman kepada Qada dan Qadar.
Paham pada keputusan serta kepastian yang
ditentukan Allah pada alam semesta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar